Rakyat dan Negara
Mitos dan Realitas
part1
Sukarno mempunyai kepribadian yang kompleks. Ia dilahirkan di
bawah bintang Gemini yang, menurut pendapatnya sendiri, memberi
corak beraneka-warna pada kepribadian itu. Persoalan Sukarno
bersangkut-paut erat dengan persoalan bangsa kita sendiri. Pada
puncak masa kekuasaannya, Sukarno digelari Pemimpin Besar
Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Walijul Amri, Panglima
Tertinggi, dan lain-lain. Dan tiba-tiba semua gelarnya dicopot. Jasa
dan peranannya ditiadakan, dan bahkan ia diejek. Persoalannya
kini bukan saja "siapakah Sukarno", tetapi juga "siapa sebenarnya
kita dahulu dan siapa kita sekarang?" Apa dahulu kita yang
munafik atau sekarang kita munafik? Apa kita semua bersifat
Gemini?
Ada berbagai pandangan sarjana luar negeri yang turut memikirkan
Sukarno dan kita. Yang menyolok di antara mereka ialah Bernard
Dahm.1
Teorinya adalah bahwa Sukarno tidak lain daripada
seorang tokoh dalam tradisi Ratu-adil-Ratu-adil di Indonesia yang
untuk sementara dapat menghipnotis masyarakat. Dengan cara
sophisticated ia berusaha menjelaskan teori ini. Ada pula orang-orang
bodoh yang melihat Sukarno sebagai satu-satunya penyebab
Revolusi Indonesia. Bagi kaum reaksioner, ini berarti bahwa kalau
saja momok revolusi bisa dihilangkan maka Revolusi Indonesia
akan selesai. Pihak-pihak reaksioner yang dimaksud adalah Belanda.
"Sayang," kata mereka, bahwa pada waktu itu mereka tidak
atau tidak mampu "mendiponegorokan" Sukarno. Kaum reaksioner
inilah yang kemudian membuat legenda Sukarno. Mereka
mengatakan bahwa Sukarno sebenarnya seorang Indo, atau mempunyai
darah Belanda, sebab tanpa ini tentu ia tidak bisa
melakukan kerja "raksasa"-nya.
Berbagai sarjana melihat Sukarno sebagai 'Ratu Jawa' yang
berpeci, pemimpin tradisional dalam bentuk modern. Spekulasispekulasi
ini memang menarik dan masih akan merupakan perdebatan
yang tak berakhir.
Masa Muda
Sukarno berasal dari keluarga priyayi rendahan. Ayahnya seorang
guru. Kedudukan sosial-ekonomis keluarganya hanya sedikit lebih
baik daripada golongan marhaen yang, di kemudian hari, nasibnya
akan diperjuangkan Sukarno. Selain itu Sukarno tidak mempunyai
persamaan lain antara dirinya dan kaum marhaen. Pendidikan
Sukarno menempatkannya dalam kalangan atas masyarakat Indonesia:
ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan HBS (Sekolah Menengah
Belanda, tamat 1921). Tahun 1927, ketika Sukarno memulai karir
politik yang sesungguhnya, tidak lebih dari 78 orang Indonesia
yang mempunyai ijazah HBS. Ini berarti hanya satu di antara 7
juta manusia Indonesia yang memiliki ijazah tersebut.2
Lebih
sedikit lagi jumlah orang-orang Indonesia tamatan universitas
seperti Ir. Sukarno. Para pemimpin pergerakan nasional kebanyakan
berasal dari mereka yang berpendidikan tinggi ini. Tanpa
memperhatikan ras, agama, asal dan suku bangsa, orang-orang
Indonesia yang berpendidikan tinggi merupakan suatu elite tersendiri.
Mereka saling mengenal, berhubungan erat, merasa setingkat
dan agak sinis satu terhadap lainnya, namun bersatu karena adanya
suatu jurang dalam yang memisahkan mereka dari rakyat yang
buta huruf dan yang dicengkram keterbelakangan. Neopriyayisme
mudah timbul di antara mereka.
Di samping kedudukan elitisnya, ada juga gangguan terhadap
kesadaran sosial pada diri mereka. Dalam hal ini Sukarno
menempati kedudukan yang unik. Selama masa HBS-nya, ia
berdiam di rumah HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam
yang kharismatis. Dengan mudah Sukarno yang cerdas diperkenalkan
kepada kalangan nasionalis, anggota Jong Java, anggota SI.
Sejak 1911, Sukarno telah menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya
dalam penerbitan-penerbitan nasionalis: Oetoesan Hindia. Di sana
ditulisnya, "Hancurkan segera kapitalisme yang dibantu oleh
budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, Insja' Allah itu
segera dilaksanakan." Berhubungan dengan pertanyaan tentang
apa yang akan terjadi bila Indonesia telah merdeka, Sukarno muda
menulis, ". . . Apa artinya memerintah sendiri kalau itu dilakukan. oleh pengikut-pengikut kapitalisme dan imperialisme?" Lebih
menarik lagi di masa Sukarno muda ini adalah tindakan-tindakannya.
Dalam suatu pertemuan Jong Java, bagian dari Budi Utomo,
Sukarno mengagetkan semua hadirin dengan penolakannya untuk
mempergunakan bahasa Jawa kromo. Sebab sebagai penganut
Jawa Dwipa (gerakan untuk menghapuskan pemakaian tingkattingkatan
dalam bahasa Jawa) yang lahir di Surabaya, ia menolak
pemakaian tingkatan-tingkatan bahasa. Sukarno memakai bahasa
Jawa ngoko (rendahan). Dengan jelas Sukarno mau menghilangkan
kedudukan elitisnya atau menghapuskan elitisme. Populisme Sukarno
terlihat juga pada tulisannya pada tahun 1921, ketika
perkumpulan-perkumpulan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong
Sumatera dan lain-lain merencanakan persatuan. Ini dianggapnya
tak berguna. Sukarno menulis untuk mempertanyakan kegunaan
mengejar cita-cita yang muluk-muluk. "Para intelektual harus
memikirkan nasib rakyat." Sikap ini memang sangat berlainan
dengan sikap-sikapnya di kemudian hari untuk menggalang persatuan.
Akan tetapi, mungkin, yang terakhir ini adalah hati nurani
Sukarno yang sebenarnya: "pikirkanlah nasib rakyat". Rakyat
selalu menjadi perhatian utama Sukarno. Marhaenismenya, pidatopidato
sandang-pangan, amanat penderitaan rakyat dan identifikasinya
sebagai penyambung lidah rakyat, itulah yang disayanginya.
Ucapan Belanda bahwa rakyat Indonesia cukup hidup dengan
pendapatan segobang (2V2 sen) sehari, betul-betul membangkitkan
amarahnya. Bagi pemimpin-pemimpin Indonesia lain kemakmuran
rakyat memang penting. Akan tetapi pertimbangan-pertimbangan
lain seperti kebebasan pribadi tidak kurang pentingnya. Atau
pertimbangan bahwa kemakmuran rakyat tidak dapat dipisahkan
dan malah tergantung dari soal produksi, yakni pembangunan.
Karena itu, memikirkannya dengan segera adalah tidak realis. Bagi
mereka, populisme Sukarno dapat membahayakan kebebasan
pribadi dan pembangunan. Untuk apa menciptakan impian-impian
muluk di kalangan rakyat, kalau itu toh tidak dapat dilaksanakan?
Yang menarik dari Sukarno di sini adalah tiga unsur pokok
pemikirannya, yakni anti-elitisme, anti-imperialisme-kolonialisme.
Dan bagi Sukarno, ketiga-tiganya identik dengan nasib rakyat.
Pemikiran-pemikiran dasar ini akan tetap menjadi tema Sukarno.
Ideologi Sukarno
Setelah tamat HBS di tahun 1921, sebenarnya Sukarno dapat langsung terjun ke masyarakat, misalnya menjadi pemimpin
politik, sebab dasar-dasarnya cukup kuat. Tetapi, Sukarno memilih
meneruskan studinya ke Technische Hoge School (THS, ITB
sekarang) yang baru setahun dibuka. Pematangan diri dan studilah
yang dipilihnya, dan bukan glamor seorang politikus. Ciri pemimpin
Indonesia seperti Sukarno, Hatta dan Sjahrir adalah bahwa
semasa mudanya, mereka dapat mengatur hidup mereka menurut
cita-cita serta peranan yang mereka idamkan. Karena itu menurut
ukuran usia tokoh-tokoh politik yang lain, Sukarno sebenarnya
sudah agak lanjut umurnya ketika tampil ke atas panggung
pergerakan nasional secara sungguh-sungguh.4
Setahun sebelum
Sukarno tamat dari THS, pada tahun 1926, ia ikut mendirikan
Algemene Studie Club Bandung, yang menerbitkan Indonesia
Muda. Seluruh masa belajar di THS digunakan Sukarno untuk menelan
buku-buku mengenai nasionalisme, marxisme, persoalan-persoalan
internasional dan sejarah. Dalam kuliah di THS, hal-hal tersebut
sama sekali tidak diajarkan. Pengaruh buku-buku ini terlihat dalam
pidato pembebasannya di depan pengadilan kolonial (1930) yang
terkenal dengan judul "Indonesia Menggugat". Pengetahuannya
mengenai Indonesia terlihat dari kutipan-kutipan para sarjana
kenamaan pada zamannya. Dan ia menyandarkan diri sepenuhnya
pada tingkat kesarjanaan Belanda pada waktu itu: P.J. Veth,
Snouck Hurgronje dan lain-lain. Namun kesadaran akan nasib
Indonesia diperoleh melalui pemikir-pemikir marxis Barat yang
tergolong dalam sosial-demokrasi.
Dalam hal ini, ada sekelompok
pemikir sosialis Belanda yang dikutip Sukarno seperti P.J. Troelstra,
pendiri partai sosialis Belanda, H. Roland Holst, seorang
pengarang wanita yang sangat imaginatif dan dua pemuka sosial
lain yang kurang penting yaitu H.H. van Kol, seorang anggota
parlemen Belanda yang pernah mengunjungi Indonesia dan J.W.
Alberds yang di tahun 1930 menjadi pembicara utama partai
sosialis dalam parlemen Belanda. Namun, harus diingat bahwa
pidato "Indonesia Menggugat" diucapkan dan ditujukan kepada
hakim-hakim Belanda dan secara tak langsung kepada rakyat
Indonesia, terutama golongan cendekiawan. Sukarno ingin menekankan
ironi proses pengadilan yang dari mulanya disebut proses
politik. Apa yang diperbolehkan orang-orang Belanda di Nederland
tidak diperbolehkan oleh orang-orang Belanda yang sama di
koloninya. Namun Sukarno tidak membatasi diri pada tokoh
sosialis Belanda saja. Yang tidak jarang. disebutnya, juga di kemudian hari, adalah Otto Bauer dari Austria, H.N. Brailsford
dari sayap kiri partai buruh Inggris. Ia banyak menganalisa
imperialisme Inggris. Analisa serupa sesuai untuk meneropong
hubungan Indonesia-Nederland. Dua tokoh lain rupanya sangat
cocolc dengan Sukarno yaitu Kari Kautsky dari Jerman dan Jean
Jaurès dari Prancis. Yang terakhir ini sering disebut-sebut dalam
seluruh karir Sukarno.
Mengenai kutipan-kutipannya yang diambil dari pemuka-pemuka
sosialis ini, Sukarno senantiasa mendapat kritik dari para sarjana
Barat.6
Dikatakan bahwa Sukarno mengutip mereka secara salah,
tidak tepat atau di luar rangkaian di mana kata-kata tersebut
digunakan. Bagi Sukarno, memang hanya memikirkan kegunaan
atau kecocokan dengan keadaan di Indonesia. Sosialisme Sukarno
tidak tumbuh di kalangan pemikir-pemikir yang sepaham seperti
lazimnya timbul dalam partai-partai sosialis atau marxis
lainnya. Hal ini agak berbeda dengan pertumbuhan Hatta dan
Sjahrir yang berpengalaman di luar negeri dan yang hadir
dalam kongres-kongres sosialis internasional. Bagi tokoh-tokoh
seperti Hatta dan Sjahrir, ideologi Sukarno terlalu bersifat
"Sukarnois". Hal ini terutama karena keengganan Sukarno yang
terkenal terhadap soal-soal ekonomi. Sebaliknya, bagi Sukarno,
persoalan ekonomi yang dibicarakan Hatta bukan persoalan
ekonomi sosialis; ia terlalu mendetail.
Tekanan kebebasan manusia
dalam ajaran-ajaran sosial demokrasi, oleh Sukarno dirasakan mengarah
kepada elitisme. Sukarno memang hanya memikirkan pokokpokok,
bahkan cenderung untuk berpikir dalam garis besar.
Program-program yang mendetail mengenai masyarakat sosial atau
organisasi partai dianggap Sukarno sebagai sesuatu yang dapat
memecah belah saja. Sebaliknya, ia ingin menggalangkan kesatuan
dengan menanam suatu tujuan yang jelas. Tetapi, Sukarno dan strateginya demikian sering dibicarakan
sehingga, kadang-kadang, kita lupa tentang apa yang sebenarnya
menjadi dasar pemikirannya: kapitalisme dan imperialisme. Kritik
terhadap kapitalisme dan imperialisme terjalin erat dalam cita-cita
masyarakat Indonesia idaman Sukarno. Kapitalisme, menurut
Sukarno, adalah "suatu pergaulan hidup yang timbul dari cara
produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. . .
kapitalisme berarah ke pemiskinan."
7 Dalam pidato-pidatonya
kemudian, Sukarno selalu menyebut penolakannya terhadap sistem
masyarakat di mana manusia mengeksploatasi sesamanya.
Bahasa Sukarno yang imaginatif menunjukkan kebenciannya
terhadap imperialisme yang baginya identik dengan kolonialisme,
"Imperialisme juga suatu paham, imperialisme juga suatu pengertian.
Ia bukan ambtenaar BB (pejabat), bukan pemerintah, bukan
penguasa. Ia adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau
mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri ..." Sukarno
melihat imperialisme ini sebagai sebab dari segala kesengsaraan
bangsanya, kemiskinan, tidak adanya kebebasan maupun pembangunan.
Untuk menentang "nafsu" yang mencengkram tanahairnya
ini, Sukarno akan serahkan dirinya, dan baginya, imperialisme
adalah obsesi hidup. Bangsanya tinggal di salah satu tanah-air
yang terindah di dunia, tersubur dan terkaya — Ibu Pertiwi, Wanita
yang Elok.
Tetapi, penghuni-penghuninya miskin dan impoten.
Dengan kesatuan kekuatan (samenbundeling van alle revolutionaire
krachten), Sukarno ingin merebutnya kembali. "Nafsu"
imperialisme ini mengubah tanah-tanahnya yang subur menjadi
perkebunan-perkebunan. Dan tambang-tambang penuh kekayaanalam
yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa pada tanah-air ini
dikuasai orang-orang asing. Sukarno tidak akan rela bila sejemput
tanah pun dari Ibu Pertiwi ini dikuasai Belanda, simbol sebuah
"nafsu" yaitu imperialisme.
_______________________
Onghokham. 1983. Rakyat dan Negara. Jakarta: Sinar Harapan.

Post a Comment