Paulo Freire: Kritik Model Pendidikan yang Membelenggu
Tidaklah penting apakah sebagian orang menyadari bahwa pendidikan itu membelenggu atau tidak, karena intinya terletak pada pada proses pendidikan antara guru dan siswa, dimana siswa dibuat menjadi objek pasif dari tindakan sistem yang ada. Sebagai pihak yang pasif, siswa tidak dituntut untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar, karena sejauh pemahaman siswa tidak memasukan dengan kerangka berpikir yang relevan dalam konteks lingkungan sosialnya. Dalam kerangka budaya pendidikan ini, proses pembelajaran siswa di kelas seolah-olah dirinya terpisah dari kehidupan nyata, dan seolah-olah bahasa pemikiran itu bisa muncul tanpa kenyataan yang ada. Dalam praktik pendidikan seperti ini, struktur sosial tidak pernah didiskusikan karena tidak dianggap sebagai masalah yang perlu dipecahkan. Sebaliknya, struktur sosial tersebut justru dibuat menjadi tidak jelas dengan berbagai cara yang mengakibatkan siswa memiliki kurangnya kesadaran sosial.
Dalam mengkritisi praktik sistem pendidikan ini baik di tingkat dasar, menengah, ataupun perguruan tinggi, perlu langkah inisiatif guru untuk dapat mengembalikan marwah pendidikan seperti apa yang dismapaikan Ki Hadjar Dewantara "ing ngarso sun tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Sebagai semboyan agar menghindar dari cara memperlakukan siswa sebagai objek.
Akan mustahil jika berharap pada kelas yang berkuasa untuk mengembangkan model pendidikan yang memungkinkan kelas yang dikuasainya menyadari secara kritis akan ketidakadilan sosial yang terjadi. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada pendidikan yang benar-benar netral. Kesadaran yang cerdas mungkin menafsirkan pernyataan ini dengan menunjuk pada kurangnya kadar netralitas praktik pendidikan yang tidak menghargai kebebasan siswa. Senyatanya, inilah yang menjadi ciri model pendidikan yang membelenggu.
Pendidikan yang membebaskan merupakan proses dimana pendidik mengkondisikan siswa untuk mengenal dan mengungkap kehidupan yang senyatanya secara kritis. Pendidikan yang membelenggu berusaha untuk menanamkan kesadaran yang keliru sehingga mereka mengikuti saja alur kehidupan ini; sedangkan Pendidikan yang membebaskan tidak dapat direduksi menjadi sekedar usaha pendidik untuk memaksakan kebebasan pada siswa. Jelas bahwa, siswa tidak dipandnag sebagai bejana kosong yang hanya menerima kata-kata dari guru. Karena siswa bukan makhluk yang terpinggirkan yang perlu "disembuhkan kesehatannya" atau "diselamatkan". Pemahaman siswa tentang dunia yang sedang mereka jalankan anggaplah ini sebagai masalah pemberantasan buta huruf atau political literacy, maka analisa kita berangkat dari asumsi 'buta huruf politik'.
Dari sudut pandang linguistik, jika orang yang buta huruf adalah orang yang tidak dapat membaca dan menulis, maka orang yang buta huruf politik adalah orang yang tidak memiliki persepsi yang cerdas terhadap manusia dalam hubungannya dengan dunia. Orang ini tidak mempunyai pandangan terhadap kondisi sosial, kecenderungan ini akan membentuk mental berkepribadian di tengah masyarakat seolah-olah melarikan diri dari kehidupan nyata sebagai cara untuk menolaknya dengan membenamkan diri ke dalam dunia abstrak.
________________________________



Post a Comment