Iklan Adsterra

Islam dan Egoisme Keilmuan

Perdebatan akhir-akhir ini antara kalangan Islam "liberal" dengan Islam fundamentalis, sesungguhnya mengulang pertarungan wacana lama antara kelompok Mu'tazilah dengan kelompok yang menolak rasionalisme sebagai titik pusat dalam pencarian kebenaran. Di tengah-tengah arus global modernitas, di mana agama dituntut untuk mampu menjawab tantangan zaman dengan sebuah pemikiran rasionalismenya dan menjadi keharusan sejarah (historical necessity) dalam mengintepretasikan kembali wacana agama. Dalam hubungan antara agama, tidak lagi perlu diperdebatkan karena sebuah pendekatan filosofis-rasional membantu mewakili pemahaman agama secara kontekstual dan sebagai suatu pandangan dunia (world view) menuju kebenaran, kearifan dan tanggung jawab. 

sumber foto: kompas.com

Pemikiran Islam kritis dan rasional pasca Ibn Rusyd terasa mati karena memang pintu ijtihad dan rasionalisme tidak berkembang sejak abad pertengahan, dikunci oleh arus deras pemikiran yang konservatif. Ketika itu, banyak pemikiran filsafat yang diharamkan atau bahkan sang pemikirnya dijatuhi hukuman mati dan fatwa kafir karena dianggap filsafat adalah produk bid'ah yang datang bukan dari Islam. Banyak referensi salah satunya setelah Al-Ghazali (1058-1111 M) menggugat dan mempertanyakan kaum filosof dalam sebuah buku "Kerancuan atas Para Filosof". Kemudian mempersoalkan penggunaan Aristotelianisme (sebagai dasar pijakan paripatetisme) dalam filsafat Islam. Ibnu Sina dan Al-Farabi, adalah dua filosof muslim yang menjadi objek kritikan keras, dan dianggap banyak melakukan kesalahan dalam logika pemikiran metafisika (ketuhanan).

Ibn Sina misalnya, dalam menghadapi tuduhan kafir yang dialamatkan kepadanya, ia hanya menulis syair empat baris dalam bahasa Persia guna menjelaskan kesetiaannya pada Islam. Katanya:

"Kufr sepertiku, tidaklah mudah untuk dirajam,

oleh orang yang menetapkan hukum pada imanku.

Apakah ini satu-satunya masa ada orang kafir sepertiku?

Jika demikian, tiada tinggal di dunia ini seorang Muslim pun".

Setelah Ibn Sina wafat, para penentangnya tanpa merasa malu-malu mengambil alih peran yang menjadi tumpuan dari orientasi pemikiran Ibn Sina, yakni filsafat ketimuran. Selanjutnya, para penentang Ibn Sina mengekspos "pamrih para filsuf", dan mengutuk 'inkoherensi para filsuf', sekaligus terlibat dalam sebuah perjuangan melawan filsuf. Bagi para penentang; membenci pemikiran orang hanya gara-gara akalnya tidak mampu menandingi kecerdasan lawannya.

sumber foto: sciencedirect.com

Ketika kaum rasionalis dikritik habis-habisan sedikit cerita tentang Muaz bin Jabal. Muaz adalah gubernur Yaman dan hidup pada masa Nabi Muhammad SAW. Pesan Nabi.  Kalau ia tidak menemukan pedoman dalam Quran untuk memutuskan sesuatu dalam lingkup pekerjaannya, ia disarankan merujuk Sunnah Nabi; dan kalau dalam Sunnah Nabi pun tidak didapati contoh itu. Ia diminta berijtihad, melakukan pemikiran kreatif. Kreatif dimaksudkan agar semua cara-cara hasil ijtihad harus berorientasi pada kemaslahatan keseluruhan masyarakat yang ia pimpin sebagai gubernur. Seraya berpegang teguh pada prinsip yang amat dimuliakan dalam Islam, yakni keadilan. Dalam konteks lain dapat tercapainya "cita-cita moral" dan agama tidak hanya sebagai formulasi saja dalam suatu kepemimpinan.

Tidak ada komentar