Benteng Mental ala Boethius
Boethius adalah seorang cendekiawan yang sukses, terkenal, dan kaya. Dia terlahir dari keluarga aristokrat dan mendapatkan pendidikan yang baik. Pada 523 M di bawah pemerintahan Raja Theodoric, Boethius memiliki kantor di Roma dan juga memiliki istri serta anak-anak yang hebat selalu mendukung karir Boethius. Puncak karir Boethius yang membuat dia terkenal ketika itu menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Latin, pada masa itu hampir tidak ada orang yang dapat membaca bahasa Yunani klasik kecuali Boethius.
Saat itu kekayaan, reputasi, karir, dan energi kreatifnya sedang berada di puncak saat itu pula apa yang ditakutkan Boethius akhirnya terjadi. Boethius tiba-tiba ditangkap, ia telah dituduh telah mendukung konspirasi untuk melawan pemerintahan Raja Theodoric, dan Boethius dijatuhi hukuman mati. Aset yang ia miliki semuanya dsitia; uang, perpustakaan, rumah, barang-barang pribadi bernilai tinggi, hingga pakaian mahal kala itu disita oleh pemerintahan Theodoric.
Ketika dipenjara Boethius menulis buku terakhirnya The Consolation of Philosophy. Setelah mendapatkan kurungan penjara satu tahun tiba waktunyanya Boethius dihukum mati; dengan aturan atau tradisi yang berlaku saat itu. Boethius dimakamkan wilayah Pavia sebelah barat daya Milan.
Karya Boethius "The Consolation of Philosophy" menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca pada zaman pertengahan, dari latar belakang perasaan ketakutan, putus asa, sembari menunggu hukuman mati ketika dalam penjara. Ringkasan isi karya dari sang filsafat Boethius berisi tentang kekuatan mental ketika akan menghadapi kematian yang sudah dijadwalkan karena hukuman pemerintah Raja Theodoric. Pengaruh Boethius terhadap filsafat klasik sangat penting. Boethius tentang karyanya mampu merefleksikan hakikat kebahagiaan manusia dan kebebasan manusia pada pemerintahan Theodoric.


Post a Comment