Wabah dan Yersinia Pestis Bakteri Pembunuh Sadis
Wabah paling terkenal yang dinamai Maut Hitam meletup pada dekade 1330, pada suatu tempat di Asia timur dan tengah, ketika bakteri penumpang kutu Yersina pestis mulai menginfeksi manusia melalui gigitan kutu.
Bakteri tersebut penyebarannya melalui kutu dan tikus, wabah ini menyebar dengan cepat ke seluruh Asia, Eropa, dan Afrika, dan kurang dari dua tahun penyebaran penyakit ini mencapai pesisir samudra Atlantik. Korban meninggal akibat wabah ini 75 juta sampai 200 juta orang mati, diperkirakan lebih dari seperempat populasi Eurasia.
Kala itu pejabat benar-benar tak berdaya menghadapi bencana itu. Selain menyelenggarakan doa-doa dan prosesi massal dilakukan, mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menghentikan penyebaran epidemi. Sampai dengan era modern, manusia menyebut penyakit sebagai akibat dari buruknya udara, setan jahat, dan dewa yang marah, sama sekali manusia kala itu tidak menganggap keberadaan bakteri dan virus. Pemahaman manusia kala itu masih berorientasi pada agama dan kepercayaan, sehingga mereka tidak bisa membayangkan ada seekor kutu dan tikus yang didalamnya terdapat bakteri dan virus predator mematikan.
Kondisi ini dikenal sebagai Maut Hitam, bakteri Yersinia pestis menjadi epidemi dan menyebar ke seluruh benua. Penyebaran bakteri ini masif ketika para penjajah datang ke berbagai negara jajahan dan menularkan penduduk lokal. Seperti halnya negara Meksiko pada tahun 1520 dalam kurun waktu 10 hari wilayah Campoallan menjadi sebuah lahan kuburan. Penyakit itu menyebarkan dari Campoallan ke kota-kota terdekat. Setelah satu demi satu kota takluk pada wabah itu.
Hampir setengah dari populasi masyarakat dunia mebgalami kematian akibat wabah, kelaparan, dan perang. Mungkin masih akan terus menelan jutaan korban pada beberapa dekade korban mendatang. Semua itu bukan lagi tragedi yang tak bisa dielakan diluar pemahaman dan kendali manusia yang tak berdaya. Sepanjang sejarah masyarakat merasakan semua itu sebagai masalah yang tidak bisa dipecahkan, sehingga anggapan tidak berguna untuk berusaha mengakhiri masalah tersebut. Orang-orang berdoa kepada Tuhan agar menurunkan keajaiban, tetapi mereka sendiri tidak berbuat serius untuk menghentikan kelaparan, wabah, dan perang. Jika insiden kelaparan, wabah, dan perang sesuatu pasti datang dalam agenda manusia. Berpikir hati-hati tentang apa yang akan terjadi, jika tidak segala kemenangan dalam perjuangan masa lalu tentang kelaparan dan wabah penyakit akan membawa umat manusia ke front yang sama sekali baru dan tidak pernah sadari oleh jutaan populasi umat manusia. Mungkin ada proyek yang akan menggantikan kelaparan, wabah, dan perang di puncak agenda kemanusiaan pada abad ke-21 ?

Post a Comment